Rabu, 03 April 2019

Cerita Fiksi #1

#Part1 Potret Generasi Tempo Doeloe (Kids Jaman Old)

Tatapannya kosong. Sesekali ia menyeka kelopak mata yang nanar. Tidak sedikit juga tetesan bening yang melumpah ia biarkan begitu saja melintasi pipinya. Tanpa suara sesenggukan, apalagi tangisan hebat. Batinnya hanya meratap habis-habisan. Tersirat penyesalan yang dalam. Pekik. Sudah beberapa saat ia biarkan dirinya seperti itu.
Kubuka potret tentangnya beberapa tahun silam. Kala itu ia berumur masih cukup belia, lepas 15 tahun-an.

Di balik jendela, nampak senyum sumringah yang jarang. Ia menemui pagi seakan ini kali pertama. Siulan burung pun menyambut. Dedaunan menari-nari di hempas angin pagi. Dinginnya tak menggoyahkan meski menusuk sampai ke tulang-tulang. Jemarinya yang mungil menyentuh lembut gagang jendela. Matanya ia pejamkan. Ia hirup dalam-dalam aroma semerbak yang datang dari bunga-bunga putih bermekaran tepat di hadapannya. Pohon itu tidak asing baginya. Ya, itulah pohon kopi. Ia melihatnya di sepanjang sisi jalan yang belum tertancap rumah pemukiman warga. Meski aroma ini memang langka. Harus menunggu setahun sekali untuk menikmati hypnosisnya. Masa-masa yang kini mendatangkan kegembiraan bagi masyarakat, yang notabene memang berpenghasilan dari hasil bumi. Tak terkecuali orang tuanya, yang memang sudah menunggu lama untuk masa ini. Melihat rerantingnya yang dipenuhi buah merah dan sebagiannya keoranyean bercampur hijau membawa suka cita. Ia membawa kehidupan bagi mereka, setidaknya sampai masa panen selanjutnya tiba. Apalagi, punya cadangan kopi setahun untuk diseduh setiap pagi bersama pisang goreng. Cukuplah menjadi penawar dingin pada pagi hari sebelum beranjak ke ladang.
Sekeliling nampak sederhana. Setiap pagi saat matahari lembut menyapa, kita disuguhkan dengan pemandangan orang-orang yang lalu lalang. Kepala keluarga yang siap menjemput rezeki dengan balutan ‘pakaian dinas’nya. Cangkul dipikul di pundak dan pisau menggantung di pinggang dengan tali melingkar sepanjang pinggang sebagai gantungan. Di jalan yang sama, Nampak anak-anak sekolah  dengan seragamnya. Terlihat kumal dan seadanya. Kadang warnanya usang karena sudah terlalu tua atau pun kena noda getah (getah pisang dan semacamnya) karena saat main pun tetap memakai seragam. Syukur-syukur punya dasi meski karetnya sudah melorot. Sepatu yang modelnya tidak karuan karena sobek. Bagian depan menganga layaknya buaya kelaparan siap menerkam. Alasnya yang sudah sangat tipis, membuat kaki terasa panas, bahkan tidak jarang sampai luka. Sampai akhirnya tergantikan oleh sandal jepit karena sudah benar-benar tak layak pakai. Tapi, saat itu tidak ada kekhawatiran terlihat di wajah lugu mereka. Mereka tidak perlu malu apalagi takut datang ke sekolah hanya karena tidak mengenakan kaos kaki putih pada hari Senin atau pun atribut lainnya. Mata kita sudah terbiasa. Guru pun cukup maklum. Meski begitu, anak-anak tak kekurangan hormat kepada gurunya. Pemandangan langka jika kalian bisa melihat ada seorang anak yang berpapasan dengan gurunya di jalan, lantas ia tidak berhenti sejenak sambil menundukkan kepala mempersilakan gurunya berlalu terlebih dahulu. Bahkan, tiada seorang murid pun yang berani meninggalkan kelas saat belajar tanpa pamit terlebih dahulu di depan guru, bukan sambil berdiri tapi duduk jongkok di atas lantai. Dan itupun saat tidak bisa lagi menahan keinginan buang air. Meski, banyak juga guru yang begitu mudah memukul atau mencubit siswa untuk mendisiplinkan mereka. Pada hari Senin saat upacara bendera, jika datang terlambat dan tidak bisa memanjat tembok atau menyelip di sela-sela kawat berduri pagar sekolah untuk masuk kelas diam-diam, maka siap-siaplah dapat cubitan tipis memutar di perut. Kadang menyisakan lebam biru. Kadang juga berakhir putus sekolah.
Pada sore hari atau hari libur, anak-anak berlalu lalang kemana-mana. Melintasi kolong rumah yang satu ke kolong rumah yang lain. Atau ke halaman suatu rumah yang menjadi titik kumpul untuk menghabiskan waktu sebelum diteriaki orang tua untuk pulang karena sudah petang (baca: maghrib). Waktu ini mereka habiskan untuk menyalurkan pekerjaan yang sudah menjadi hobbi mereka. Ya, bermain. Permainannya sederhana. Kadang bahannya dari alam yang dirakit sendiri akhirnya jadi mainan, atau barang-barang bekas yang tidak terpakai lagi. Misal saja bola kastik. Dibuat dari lumut-lumut bertanah, dibungkus kantong kresek, dan diikat dengan tali rafia (istilah kerennya rumput Jepang, hehe), setelah itu siap digunakan. Atau buat gelembung-gelembung balon dari sabun colek ibu-ibu kita di rumah (biasa kena marah ibu juga kan?) dicampur daun kembang sepatu yang ditumbuk halus dan diambil lendir-lendirnya. Tuk membuat gelembung/balon yang besar, cukup buat cetakannya dari sapu lidi yang ujungnya dilingkarkan dan diikat dengan tali sebagai penahan supaya tetap berbentuk bulat. Lidinya tinggal dibenamkan saja ke air sabun tadi dan ditiup, sudah bisa menghasilkan gelembung-gelembung  di udara. Selain itu, permainannya musiman. Jika tiba musim suatu permainan, maka lekaslah anak-anak mempersiapkan mainannya. Kadang ibu-ibu atau bapak-bapak juga dibuat repot. “Dipaksa” membuatkan mainan jika anak sudah tidak bisa lagi membuatnya sendiri. Seringkali dibarengi rengekan. Kan kalau tidak punya mainan, pasti tidak up to date kan? Misal Sudah musim wayang, tapi masih main kelereng atau karet gelang, kan ketinggalan guys
Soal gotong royong warga jangan ditanya lagi. Sehari-hari, warga saling bahu-membahu membantu tetangga yang kesusahan. Mulai bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anaknya juga dididik seperti itu. Orang mau bangun rumah, orang sekampung beramai-ramai datang membantu tanpa undangan. Bahkan hal-hal kecil yang bisa dikerjakan sendiri. Cukup disuguhi air minum (kopi tanpa gula biasanya) dan kue-kue tradisional (roko-roko pisang, roko-roko cangkuni, dan aneka kue kreasi ibu-ibu). Jika yang punya hajatan punya kemampuan yang lebih maka dapat bonus makan makanan yang berat. Menu sederhananya nasi jagung + sayur hijau + ikan, yang cukup mewah jika dilengkapi dengan ayam goreng atau ‘gagape’ (ayam dimasak dengan aneka rempah-rempah). Layaknya sikap saling tolong–menolong ini telah menjadi budaya yang mengikat. Tidak jarang, orang yang tidak mau ikut serta membantu mendapat cibiran tetangga dan hukuman adat. Hukumannya setimpal, jika ia juga suatu saat butuh bantuan maka orang lain juga enggan membantunya (meski tanpa kesepakatan sebelumnya, tapi kayak karma aja, hehehe). Meski, umumnya mereka orang-orang yang tulus membantu tanpa memedulikan hal-hal seperti itu.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Fiksi #3

#Part3 “Fitrawi”, Katamu Tiba-tiba heningnya dibuyarkan oleh kedatangan sepucuk surat. Amplop kecil biru kini dalam genggamannya. Ia bolak...