#Part1 Potret Generasi Tempo Doeloe (Kids Jaman Old)
Tatapannya kosong. Sesekali ia menyeka kelopak mata yang nanar. Tidak sedikit juga tetesan bening yang melumpah ia biarkan begitu saja melintasi pipinya. Tanpa suara sesenggukan, apalagi tangisan hebat. Batinnya hanya meratap habis-habisan. Tersirat penyesalan yang dalam. Pekik. Sudah beberapa saat ia biarkan dirinya seperti itu.
Tatapannya kosong. Sesekali ia menyeka kelopak mata yang nanar. Tidak sedikit juga tetesan bening yang melumpah ia biarkan begitu saja melintasi pipinya. Tanpa suara sesenggukan, apalagi tangisan hebat. Batinnya hanya meratap habis-habisan. Tersirat penyesalan yang dalam. Pekik. Sudah beberapa saat ia biarkan dirinya seperti itu.
Kubuka potret tentangnya beberapa tahun silam.
Kala itu ia berumur masih cukup belia, lepas 15 tahun-an.
Di balik jendela,
nampak senyum sumringah yang jarang. Ia menemui pagi seakan ini kali pertama.
Siulan burung pun menyambut. Dedaunan menari-nari di hempas angin pagi.
Dinginnya tak menggoyahkan meski menusuk sampai ke tulang-tulang. Jemarinya yang
mungil menyentuh lembut gagang jendela. Matanya ia pejamkan. Ia hirup
dalam-dalam aroma semerbak yang datang dari bunga-bunga putih bermekaran tepat
di hadapannya. Pohon itu tidak asing baginya. Ya, itulah pohon kopi. Ia
melihatnya di sepanjang sisi jalan yang belum tertancap rumah pemukiman warga. Meski
aroma ini memang langka. Harus menunggu setahun sekali untuk menikmati
hypnosisnya. Masa-masa yang kini mendatangkan kegembiraan bagi masyarakat, yang
notabene memang berpenghasilan dari hasil bumi. Tak terkecuali orang tuanya,
yang memang sudah menunggu lama untuk masa ini. Melihat rerantingnya yang
dipenuhi buah merah dan sebagiannya keoranyean bercampur hijau membawa suka
cita. Ia membawa kehidupan bagi mereka, setidaknya sampai masa panen
selanjutnya tiba. Apalagi, punya cadangan kopi setahun untuk diseduh setiap
pagi bersama pisang goreng. Cukuplah menjadi penawar dingin pada pagi hari
sebelum beranjak ke ladang.
Sekeliling nampak
sederhana. Setiap pagi saat matahari lembut menyapa, kita disuguhkan dengan
pemandangan orang-orang yang lalu lalang. Kepala keluarga yang siap menjemput
rezeki dengan balutan ‘pakaian dinas’nya. Cangkul dipikul di pundak dan pisau
menggantung di pinggang dengan tali melingkar sepanjang pinggang sebagai
gantungan. Di jalan yang sama, Nampak anak-anak sekolah dengan seragamnya. Terlihat kumal dan
seadanya. Kadang warnanya usang karena sudah terlalu tua atau pun kena noda
getah (getah pisang dan semacamnya) karena saat main pun tetap memakai seragam.
Syukur-syukur punya dasi meski karetnya sudah melorot. Sepatu yang modelnya tidak
karuan karena sobek. Bagian depan menganga layaknya buaya kelaparan siap
menerkam. Alasnya yang sudah sangat tipis, membuat kaki terasa panas, bahkan tidak
jarang sampai luka. Sampai akhirnya tergantikan oleh sandal jepit karena sudah
benar-benar tak layak pakai. Tapi, saat itu tidak ada kekhawatiran terlihat di
wajah lugu mereka. Mereka tidak perlu malu apalagi takut datang ke sekolah
hanya karena tidak mengenakan kaos kaki putih pada hari Senin atau pun atribut
lainnya. Mata kita sudah terbiasa. Guru pun cukup maklum. Meski begitu,
anak-anak tak kekurangan hormat kepada gurunya. Pemandangan langka jika kalian bisa
melihat ada seorang anak yang berpapasan dengan gurunya di jalan, lantas ia
tidak berhenti sejenak sambil menundukkan kepala mempersilakan gurunya berlalu
terlebih dahulu. Bahkan, tiada seorang murid pun yang berani meninggalkan kelas
saat belajar tanpa pamit terlebih dahulu di depan guru, bukan sambil berdiri
tapi duduk jongkok di atas lantai. Dan itupun saat tidak bisa lagi menahan keinginan
buang air. Meski, banyak juga guru yang begitu mudah memukul atau mencubit
siswa untuk mendisiplinkan mereka. Pada hari Senin saat upacara bendera, jika
datang terlambat dan tidak bisa memanjat tembok atau menyelip di sela-sela
kawat berduri pagar sekolah untuk masuk kelas diam-diam, maka siap-siaplah
dapat cubitan tipis memutar di perut. Kadang menyisakan lebam biru. Kadang juga
berakhir putus sekolah.
Pada sore hari atau
hari libur, anak-anak berlalu lalang kemana-mana. Melintasi kolong rumah yang
satu ke kolong rumah yang lain. Atau ke halaman suatu rumah yang menjadi titik
kumpul untuk menghabiskan waktu sebelum diteriaki orang tua untuk pulang karena
sudah petang (baca: maghrib). Waktu ini mereka habiskan untuk menyalurkan
pekerjaan yang sudah menjadi hobbi mereka. Ya, bermain. Permainannya sederhana.
Kadang bahannya dari alam yang dirakit sendiri akhirnya jadi mainan, atau
barang-barang bekas yang tidak terpakai lagi. Misal saja bola kastik. Dibuat
dari lumut-lumut bertanah, dibungkus kantong kresek, dan diikat dengan tali
rafia (istilah kerennya rumput Jepang, hehe), setelah itu siap digunakan. Atau
buat gelembung-gelembung balon dari sabun colek ibu-ibu kita di rumah (biasa
kena marah ibu juga kan?) dicampur daun kembang sepatu yang ditumbuk halus dan
diambil lendir-lendirnya. Tuk membuat gelembung/balon yang besar, cukup buat
cetakannya dari sapu lidi yang ujungnya dilingkarkan dan diikat dengan tali
sebagai penahan supaya tetap berbentuk bulat. Lidinya tinggal dibenamkan saja
ke air sabun tadi dan ditiup, sudah bisa menghasilkan gelembung-gelembung di udara. Selain itu, permainannya musiman. Jika
tiba musim suatu permainan, maka lekaslah anak-anak mempersiapkan mainannya.
Kadang ibu-ibu atau bapak-bapak juga dibuat repot. “Dipaksa” membuatkan mainan
jika anak sudah tidak bisa lagi membuatnya sendiri. Seringkali dibarengi
rengekan. Kan kalau tidak punya mainan, pasti tidak up to date kan?
Misal Sudah musim wayang, tapi masih main kelereng atau karet gelang, kan
ketinggalan guys.
Soal gotong royong warga jangan ditanya lagi.
Sehari-hari, warga saling bahu-membahu membantu tetangga yang kesusahan. Mulai
bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anaknya juga dididik seperti itu. Orang mau
bangun rumah, orang sekampung beramai-ramai datang membantu tanpa undangan. Bahkan
hal-hal kecil yang bisa dikerjakan sendiri. Cukup disuguhi air minum (kopi
tanpa gula biasanya) dan kue-kue tradisional (roko-roko pisang, roko-roko
cangkuni, dan aneka kue kreasi ibu-ibu). Jika yang punya hajatan punya
kemampuan yang lebih maka dapat bonus makan makanan yang berat. Menu
sederhananya nasi jagung + sayur hijau + ikan, yang cukup mewah jika dilengkapi
dengan ayam goreng atau ‘gagape’ (ayam dimasak dengan aneka rempah-rempah). Layaknya
sikap saling tolong–menolong ini telah menjadi budaya yang mengikat. Tidak
jarang, orang yang tidak mau ikut serta membantu mendapat cibiran tetangga dan
hukuman adat. Hukumannya setimpal, jika ia juga suatu saat butuh bantuan maka
orang lain juga enggan membantunya (meski tanpa kesepakatan sebelumnya, tapi
kayak karma aja, hehehe). Meski, umumnya mereka orang-orang yang tulus membantu
tanpa memedulikan hal-hal seperti itu.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar