Rabu, 03 April 2019

Cerita Fiksi #3

#Part3 “Fitrawi”, Katamu

Tiba-tiba heningnya dibuyarkan oleh kedatangan sepucuk surat. Amplop kecil biru kini dalam genggamannya. Ia bolak balik surat tersebut, harapannnya menemukan satu nama terpampang disana. Namun, nihil. Kali ini tanpa nama lagi. Ia buka dan memerhatikan tulisan tangannya. Ia bandingkan dengan surat sebelumnya yang ia terima. Hmmm, Ya, ini orang yang sama. Gumamnya dalam hati. Cepat-cepat ia membaca surat keduanya itu.


Labirin Cinta, 19 Januari 2008
Untukmu yang setiapmu adalah amatku.
Kedatangan suratku kali pertama mugkin membuatmu ingin tahu pengirimnya. Tapi, ketahuilah bahwa itu tidaklah penting. Teruslah menjalani hidupmu yang terbaik, tanpa terusik sedikit pun tentangku. Namun, Yakinlah! saya begitu dekat.
Suratku kali ini hanya ingin mengabarimu sesuatu, bisa jadi banyak hal.

Apa yang membuatmu begitu gusar akhir-akhir ini? Bukankah itu terlalu banyak membuang waktu dan emosimu? Bukankah saat gelap, lebih baik menyalakan pelita dibanding hanya mengutuk kegelapan terus-terusan?! Kumaklumi segala kenangmu yang menyeretmu kembali ke masa kanak-kanak. Kala itu, engkau tidak lebih dari bocah naif. Tanpa beban dan tanggung jawab. Ketahuilah, duniamu kini tidaklah sama. Peranmu pun mestinya berbeda.

Tidakkah engkau peduli terhadap generasimu kelak jika tidak berbuat sekarang? Oke, engkau boleh saja resah bahkan harus jika melihat anak-anak sekarang yang berangsur kurang beradab. Namun, engkau harus paham bahwa dunia mereka tidaklah sama dengan masamu. Makanya, engkau tidak boleh menuntut hal yang sama seperti dulu. Pelajari dan amati masanya. Banyaklah mendengar dari mereka, sebab engkau tidak bisa lagi memaksakan titahmu terhadap mereka. Kebanyakan mereka hanya mau didengar dan butuh bimbinganmu, tapi bukan perintah untuk menjadi ini dan itu.
Jadi, berhentilah membandingkan mereka dengan dirimu dulu. Bukankah kesenangan pada masa kecilmu juga banyak terampas karena terlalu banyak aturan ini dan itu?!
Tetaplah dengan sabar membimbing mereka. Kelak jika engkau pun telah menjadi ibu untuk anak-anakmu, lakukan hal yang sama. Ingatlah bahwa “Jika seorang ibu berhasil mendidik seorang anak laki-laki maka ia telah mendidik seorang pemimpin, dan jika telah berhasil mendidik anak perempuan maka ia telah mendidik satu generasi.”
Kurasa, engkau pun tidak terima jika dengan usiamu sekarang dipaksa melakukan sesuatu di luar kehendakmu, seperti perjodohan itu kan?! Kumaklumi engkau dengan semua cita-citamu. Tentu engkau pun berharap suatu saat bisa hidup bahagia dengan laki-laki pilihanmu sendiri. Tidak seperti hikayat Siti Nurbaya yg fenomenal itu.
Teruntuk orang tuamu (baca : bapak), maklumilah jika ia terlalu memaksakan kehendaknya terhadapmu. Pahamilah sebagai bagian dari kecemburuan Tuhan yang dititipkan kepada mereka karena ingin melihatmu tetap terjaga. Penjagaan mereka bukan sekedar konstruk budaya, tapi itulah fitrawi mereka. Setelah pemakluman itu, Tentunya engkau tidak akan menggugat mereka seperti apa yang dilakukan oleh kaum feminis, kan? Ya, meski terkadang ego mereka sebagai orang tua yang selalu merasa benar sulit dilebur, namun pahamilah bahwa ia bertanggung jawab terhadapmu. Yang kutau, bukan hanya anak yang berdosa kepada orang tuanya, tapi orang tua juga boleh jadi berdosa, tidak kepada anak tapi kepada Tuhannya, jika salah-salah memberikan pendidikan.

Kuharap esok senyum menghiasi parasmu seperti yang kusaksikan 15 tahun lalu. Hingga sekelilingmu takjub akan keindahan-Nya.


~ Dariku, yang bukan apa-apa
                                                          & tidak untuk disebut sebagai siapa-siapa


Tamat.

Alhamdu lillah cerita dari #Part1-#Part3 sudah dibukukan meski hanya menempati beberapa lembar saja di buku tersebut. Tapi pencapaian sekecil apa pun harus dirayakan. Teriring doa semoga karya yang lain menyusul. Ilaahi aamiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Fiksi #3

#Part3 “Fitrawi”, Katamu Tiba-tiba heningnya dibuyarkan oleh kedatangan sepucuk surat. Amplop kecil biru kini dalam genggamannya. Ia bolak...