Tiba-tiba heningnya dibuyarkan oleh kedatangan sepucuk surat. Amplop kecil biru kini dalam genggamannya. Ia bolak balik surat tersebut, harapannnya menemukan satu nama terpampang disana. Namun, nihil. Kali ini tanpa nama lagi. Ia buka dan memerhatikan tulisan tangannya. Ia bandingkan dengan surat sebelumnya yang ia terima. Hmmm, Ya, ini orang yang sama. Gumamnya dalam hati. Cepat-cepat ia membaca surat keduanya itu.
Labirin Cinta, 19 Januari 2008
Untukmu yang setiapmu adalah amatku.
Kedatangan suratku kali
pertama mugkin membuatmu ingin tahu pengirimnya. Tapi, ketahuilah bahwa itu
tidaklah penting. Teruslah menjalani hidupmu yang terbaik, tanpa terusik
sedikit pun tentangku. Namun, Yakinlah! saya begitu dekat.
Suratku kali ini hanya
ingin mengabarimu sesuatu, bisa jadi banyak hal.
Apa yang membuatmu begitu
gusar akhir-akhir ini? Bukankah itu terlalu banyak membuang waktu dan emosimu? Bukankah
saat gelap, lebih baik menyalakan pelita dibanding hanya mengutuk kegelapan
terus-terusan?! Kumaklumi segala kenangmu yang menyeretmu kembali ke masa
kanak-kanak. Kala itu, engkau tidak lebih dari bocah naif. Tanpa beban dan
tanggung jawab. Ketahuilah, duniamu kini tidaklah sama. Peranmu pun mestinya
berbeda.
Tidakkah engkau
peduli terhadap generasimu kelak jika tidak berbuat sekarang? Oke, engkau boleh
saja resah bahkan harus jika melihat anak-anak sekarang yang berangsur kurang
beradab. Namun, engkau harus paham bahwa dunia mereka tidaklah sama dengan
masamu. Makanya, engkau tidak boleh menuntut hal yang sama seperti dulu.
Pelajari dan amati masanya. Banyaklah mendengar dari mereka, sebab engkau tidak
bisa lagi memaksakan titahmu terhadap mereka. Kebanyakan mereka hanya mau
didengar dan butuh bimbinganmu, tapi bukan perintah untuk menjadi ini dan itu.
Jadi, berhentilah
membandingkan mereka dengan dirimu dulu. Bukankah kesenangan pada masa kecilmu
juga banyak terampas karena terlalu banyak aturan ini dan itu?!
Tetaplah dengan sabar
membimbing mereka. Kelak jika engkau pun telah menjadi ibu untuk anak-anakmu, lakukan
hal yang sama. Ingatlah bahwa “Jika seorang ibu berhasil mendidik seorang anak
laki-laki maka ia telah mendidik seorang pemimpin, dan jika telah berhasil
mendidik anak perempuan maka ia telah mendidik satu generasi.”
Kurasa, engkau pun tidak
terima jika dengan usiamu sekarang dipaksa melakukan sesuatu di luar
kehendakmu, seperti perjodohan itu kan?! Kumaklumi engkau dengan semua
cita-citamu. Tentu engkau pun berharap suatu saat bisa hidup bahagia dengan
laki-laki pilihanmu sendiri. Tidak seperti hikayat Siti Nurbaya yg fenomenal
itu.
Teruntuk orang tuamu (baca
: bapak), maklumilah jika ia terlalu memaksakan kehendaknya terhadapmu. Pahamilah
sebagai bagian dari kecemburuan Tuhan yang dititipkan kepada mereka karena
ingin melihatmu tetap terjaga. Penjagaan mereka bukan sekedar konstruk budaya,
tapi itulah fitrawi mereka. Setelah pemakluman itu, Tentunya engkau tidak akan
menggugat mereka seperti apa yang dilakukan oleh kaum feminis, kan? Ya, meski
terkadang ego mereka sebagai orang tua yang selalu merasa benar sulit dilebur,
namun pahamilah bahwa ia bertanggung jawab terhadapmu. Yang kutau, bukan hanya
anak yang berdosa kepada orang tuanya, tapi orang tua juga boleh jadi berdosa,
tidak kepada anak tapi kepada Tuhannya, jika salah-salah memberikan pendidikan.
~ Dariku, yang bukan apa-apa
& tidak untuk disebut sebagai siapa-siapa
Tamat.
Alhamdu lillah cerita dari #Part1-#Part3 sudah dibukukan meski hanya menempati beberapa lembar saja di buku tersebut. Tapi pencapaian sekecil apa pun harus dirayakan. Teriring doa semoga karya yang lain menyusul. Ilaahi aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar