Rabu, 03 April 2019

Cerita Fiksi #2

#Part2 Budaya Patriarki Masyarakat Pedesaan

Patriarki ini budaya yang menempatkan laki-laki sebagai penguasa atau yang paling dominan atas kepemimpinan terhadap perempuan-perempuan yang ia miliki, misal atas istri, anak perempuan, dan saudara-saudara perempuannya.
Di masyarakat, perempuan-perempuan yang telah menikah kebanyakan murni menjadi ibu-ibu rumah tangga. Murni maksudnya karena mereka tidak dibebankan untuk mencari tambahan nafkah bagi keluarga. Kecuali, jika jasa mereka memang benar-benar diperlukan untuk menambah perekonomian keluarga. Biasanya, kalau pun harus ke ladang, hanya untuk mengantar makanan bagi keluarga yang bekerja di sana. Makanan yang telah diolah di rumah dengan tangan sendiri. Dan biasanya dikerjakan sambil mengurus anak, dan sambil-sambil lainnya. Sementara menunggu makanan matang juga sambil menyapu. Pun sambil mencuci baju atau piring kotor. Itulah the power of mama’-mama’ (kekuatan ibu-ibu). Begitu cekatan. Tanpa keluhan. Tidak boleh bosan. Sangat lumrah jika pinggang encok atau badan pegal-pegal setelah mengurus rumah. Bagaimana tidak?! Seharian dan setiap hari. Dan tanpa selingan rekreasi. Kalau pun rekreasi, paling rekreasinya ke sungai-sungai terdekat, itu pun sambil bawa cucian (baca : pakaian kotor). Hehehe.
Di luar pekerjaan rumah, seorang ibu juga harus mampu mengajari anak-anaknya tentang adab. Adab berbicara kepada orang yang lebih tua, sopan santun dalam bersikap, dan bejibun aturan tata krama dalam masyarakat. Dan yang tidak kalah penting, khususnya bagi anak perempuan yang memasuki usia remaja adalah pelajaran menjadi perempuan. Lo kan sudah perempuan, kenapa harus diajari menjadi perempuan lagi? Karena agama dan budaya memiliki pandangannya sendiri soal perempuan. Sederhananya, pelajaran ini mengenai apa yang wajib dan haram, boleh dan tidak boleh dilakukan oleh perempuan.
Sebenarnya sejak kecil memang sudah ada pemetaan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Misal, anak laki-laki yang ‘hanya boleh’ main mobil-mobilan dan anak perempuan dengan boneka. Laki-laki dengan permainan perang-perangan dan perempuan dengan masak-masakan. Hingga mereka tumbuh besar dengan pengotak-ngotakan seperti itu. Namun, bedanya anak laki-laki tumbuh dengan ekspresinya sendiri (tapi tetap terikat) dan perempuan harus dengan standar yang ditentukan oleh masyarakat (sebagiannya karena memang aturan agama). Katanya, perempuan harus jago masak, bisa bikin kopi/teh, pokoknya semua urusan dapur. Penampilannya pun harus anggun, meski tanpa polesan bedak dan lipstik pemerah bibir. Kata ayah(suami)mu adalah titah, cukup dengar dan sigap lakukan. Tanpa ta apalagi pi. Jika pun dimarahi, tetap sikap diam. Semua tanpa ta apalagi pi.
Karena standar-standar tersebut, maka lahirlah stereotipe (cara pandang terhadap seseorang atau pelabelan-pelabelan) khususnya kepada perempuan. Misal, masyarakat tidak akan mempermasalahkan jika anak laki-laki pulang malam bahkan sampai larut. Ya... biasalah anak muda. Begitu celoteh mereka. Namun, akan sangat berbeda bila anak perempuan yang masih berada di luar, jangankan sampai larut, jika sudah memasuki waktu maghrib pun dan belum berada di rumah maka ini dipandang negatif oleh masyarakat. Mengapa? Karena menurut mereka, perempuan yang baik itu yang bisa mengurus rumah dengan baik. Bisa menyiapkan semua kebutuhan keluarga. Tentunya, hal ini tidak bisa dilakukan jika terus-terusan berada di luar rumah kan?!
Mungkin sangat banyak remaja yang tumbuh setelah sebelumnya mendengar petuah orang tuanya “Nak, perempuan itu ibarat telur. Sekali retak maka tidak bisa utuh kembali.”. Analogi inilah yang sangat lazim digunakan oleh orang tua agar anak-anak perempuannya menjaga kesuciannya. Pilihannya: menjaga kesucian atau terbuang dari masyarakat.
Namun, bagaimana agama memandang hal ini?


Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Fiksi #3

#Part3 “Fitrawi”, Katamu Tiba-tiba heningnya dibuyarkan oleh kedatangan sepucuk surat. Amplop kecil biru kini dalam genggamannya. Ia bolak...