Patriarki ini budaya yang menempatkan laki-laki sebagai penguasa atau yang paling dominan atas kepemimpinan terhadap perempuan-perempuan yang ia miliki, misal atas istri, anak perempuan, dan saudara-saudara perempuannya.
Di masyarakat, perempuan-perempuan
yang telah menikah kebanyakan murni menjadi ibu-ibu rumah tangga. Murni
maksudnya karena mereka tidak dibebankan untuk mencari tambahan nafkah bagi
keluarga. Kecuali, jika jasa mereka memang benar-benar diperlukan untuk
menambah perekonomian keluarga. Biasanya, kalau pun harus ke ladang, hanya
untuk mengantar makanan bagi keluarga yang bekerja di sana. Makanan yang telah diolah
di rumah dengan tangan sendiri. Dan biasanya dikerjakan sambil mengurus anak,
dan sambil-sambil lainnya. Sementara menunggu makanan matang juga sambil
menyapu. Pun sambil mencuci baju atau piring kotor. Itulah the power of
mama’-mama’ (kekuatan ibu-ibu). Begitu cekatan. Tanpa keluhan. Tidak boleh
bosan. Sangat lumrah jika pinggang encok atau badan pegal-pegal setelah mengurus
rumah. Bagaimana tidak?! Seharian dan setiap hari. Dan tanpa selingan rekreasi.
Kalau pun rekreasi, paling rekreasinya ke sungai-sungai terdekat, itu pun
sambil bawa cucian (baca : pakaian kotor). Hehehe.
Di luar pekerjaan
rumah, seorang ibu juga harus mampu mengajari anak-anaknya tentang adab. Adab
berbicara kepada orang yang lebih tua, sopan santun dalam bersikap, dan bejibun
aturan tata krama dalam masyarakat. Dan yang tidak kalah penting, khususnya
bagi anak perempuan yang memasuki usia remaja adalah pelajaran menjadi
perempuan. Lo kan sudah perempuan, kenapa harus diajari menjadi perempuan
lagi? Karena agama dan budaya memiliki pandangannya sendiri soal perempuan.
Sederhananya, pelajaran ini mengenai apa yang wajib dan haram, boleh dan tidak
boleh dilakukan oleh perempuan.
Sebenarnya sejak
kecil memang sudah ada pemetaan antara anak laki-laki dan anak perempuan.
Misal, anak laki-laki yang ‘hanya boleh’ main mobil-mobilan dan anak perempuan
dengan boneka. Laki-laki dengan permainan perang-perangan dan perempuan dengan
masak-masakan. Hingga mereka tumbuh besar dengan pengotak-ngotakan seperti itu.
Namun, bedanya anak laki-laki tumbuh dengan ekspresinya sendiri (tapi tetap
terikat) dan perempuan harus dengan standar yang ditentukan oleh masyarakat
(sebagiannya karena memang aturan agama). Katanya, perempuan harus jago masak,
bisa bikin kopi/teh, pokoknya semua urusan dapur. Penampilannya pun harus
anggun, meski tanpa polesan bedak dan lipstik pemerah bibir. Kata ayah(suami)mu
adalah titah, cukup dengar dan sigap lakukan. Tanpa ta apalagi pi. Jika pun
dimarahi, tetap sikap diam. Semua tanpa ta apalagi pi.
Karena
standar-standar tersebut, maka lahirlah stereotipe (cara pandang terhadap
seseorang atau pelabelan-pelabelan) khususnya kepada perempuan. Misal,
masyarakat tidak akan mempermasalahkan jika anak laki-laki pulang malam bahkan
sampai larut. Ya... biasalah anak muda. Begitu celoteh mereka. Namun, akan
sangat berbeda bila anak perempuan yang masih berada di luar, jangankan sampai larut,
jika sudah memasuki waktu maghrib pun dan belum berada di rumah maka ini
dipandang negatif oleh masyarakat. Mengapa? Karena menurut mereka, perempuan
yang baik itu yang bisa mengurus rumah dengan baik. Bisa menyiapkan semua
kebutuhan keluarga. Tentunya, hal ini tidak bisa dilakukan jika terus-terusan berada
di luar rumah kan?!
Mungkin sangat
banyak remaja yang tumbuh setelah sebelumnya mendengar petuah orang tuanya
“Nak, perempuan itu ibarat telur. Sekali retak maka tidak bisa utuh kembali.”.
Analogi inilah yang sangat lazim digunakan oleh orang tua agar anak-anak
perempuannya menjaga kesuciannya. Pilihannya: menjaga kesucian atau terbuang
dari masyarakat.
Namun, bagaimana
agama memandang hal ini?
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar